Hati-Hati Banyak Fintech Bodong, Kenali Dulu Ciri-Ciri Fintech Ilegal Yang Berpotensi Merugikan

Hati-Hati Banyak Fintech Bodong, Kenali Dulu Ciri-Ciri Fintech Ilegal Yang Berpotensi Merugikan

Ciri-Ciri Fintech Ilegal (Bodong). Dibalik perkembangan jasa teknologi keuangan (Fintech) yang semakin berkembang pesat, banyak perusahaan fintech yang menghadirkan inovasi-inovasi baru dengan tujuan memudahkan akses masyarak mendapat layanan keuangan secara optimal.

Selain itu fintech juga memiliki tujuan lain untuk memudahkan masyarakat dalam bertransaksi keuangan, serta mempermudah akses dan juga meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

Namun di era serba digital kita harus tetap waspada terhadap terhadap fintech bodong yang berpotensi merugikan. Masyarakat diminta untuk selalu berhati-hati dalam memilih jasa teknologi keuangan atau Fintech.

Sebab banyak situs fintech abal-abal yang berpotensi merugikan dengan memerikan iming-iming bunga yang menggiurkan. Terutama Fintech yang menggunakan metode peer to peer lending atau P2P Lending yang bergerak pada usaha simpan pinjam.

Mengingat begitu banyak penipuan Fintech Bodong, mengetahui ciri-ciri fintech yang berpotensi merugikan merupakan hal yang penting untuk di lakukan.

Berikut adalah ciri-ciri fintech yang berpotensi merugikan:


1. Identitas Fintech Tidak Jelas


Jika melihat dari unsur dasar perusahaan, identitas perusahaan merupakan salah satu faktor penting bagi tumbuh kembangnya suatu perusahaan. 

Identitas yang jelas dimaksudkan untuk mempermudah calon klien untuk mengetahui bagaimana perusahaan tersebut berada, 
bagaimana perusahaan dikelola, management perusahaan, alamat perusahaan, Customer Service yang bisa dihubungi dan sebagainya.

Tentu saja hal tersebut berbeda dengan perusahaan fintech yang memiliki niat buruk (bodong), biasanya perusahaan fintech bodong akan menyamarkan identitas perusahaan dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. 

Apabila ditanya mengenai identitas perusahaan, biasanya mereka akan segera mengalihkan pembicaraan dengan tujuan membuat perhatian nasabah teralihkan dan membuat nasabah tertarik.

Umumnya, perusahaan fintech yang aman selalu terbuka kepada calon nasabahnya, karena dengan keterbukaan akan membangun sebuah kepercayaan antara nasabah dan perusahaan. 

Baca juga : Tips Memilih Layanan Fintech Aman ala Ronny Wijaya Indodana


2. Kemudahan Tidak Wajar


Pada dasarnya, tujuan berdirinya teknologi inovasi fintech adalah untuk memudahkan masyarakat dalam menjangkau layanan keuangan. Namun masyarakat diminta utuk selalu waspada saat bertransaski menggunakan media online yang memberikan kemudahan secara tidak wajar.

Sebagai contoh, umumnya perusahaan fintech legal (Terdaftar di OJK) akan memberikan formulir pengajuan dan kelengkapan persyaratan kepada calon nasabah yang berisi data diri calon nasabah.

Selanjutnya data akan diverifikasi secara detail untuk memastikan data yang diberikan valid sebelum transaksi dilakukan. Namun bagi perusahaan fintech bodong semua tahap-tahap verifikasi tersebut dapat dipersingkat.

Tentu bagi calon nasabah yang kurang waspada mungkin hal tersebut sangat membantu, namun sebenarnya sangat riskan untuk dilakukan karena tidak mematuhi standrat yang telah ditetapkan OJK.


3. Bunga Tinggi


Perangkap yang sering digunakan oleh perusahaan fintech bodong adalah dengan memberikan pelayanan yang mudah dengan menyamarkan transparansi dan akhirnya menjebak nasabah kepada bunga yang sangat tinggi.

Bahkan dalam beberapa kasus, perusahaan fintech bodong memberikan bunga mencapai 2%-3% perharinya. Tentu bunga yang sangat tinggi tersebut sangat memberatkan masyarakat.

Memang OJK tidak memberikan batas bunga terhadap perusahaan fintech, namun  AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia) telah menerapkan peraturan yang memberikan perlindungan terhadap konsumen.

Salah satu peraturan yang dibuat adalah masa penagihan hanya boleh dilakukan maksimal 90 hari dari tenggat waktu pembayaran serta penagihan tidak boleh melebihi 100% dari nilai pokok. Artinya, jumlah biaya pinjaman dan pokok dijamin tidak akan bertambah.


4. Duplikat Data Nasabah


Selain memberikan pelayanan kemudahan yang dianggap tidak wajar, resiko yang harus dihadapi oleh nasabah adalah pencurian data pribadi yang dilakukan oleh perurasahaan fintech bodong tersebut.

Biasanya data-data pribadi yang sering di curi adalah nomer HP, Nama nasabah, alamat rumah, serta data-data pendukung lainnya. Tentu hal tersebut sangat merugikan nasabah apabila data tersebut digunakan secara tidak bijak. 

Namun hal tersebut dipastikan tidak akan terjadi kepada perusahaan fintech yang sudah dinyatakan legal OJK, karena OJK telah mengartur pelarangan tindakan penyalinan data nasabah yang sudah tercantum di POJK atau Peraturan Otoritas Jasa Keuangan.


5. Penagihan Secara Intimidasi


Salah satu penyebab yang membuat tidak nyaman nasabah fintech bodong adalah cara penagihan yang dilakukan secara mengintimidasi peminjamnya. Bahkan Debt collector juga tidak segan untuk meneror anggota keluarga nasabah tersebut.

Padahal menurut code of conduct (dokumen tertulis yang mengatur bagaimana tata cara atau perilaku perusahaan), perusahaan fintech hanya boleh melakukan penagihan hanya pada jam kerja. 

Dan tidak menyarankan untuk mengih diluar jam kerja karena dapat mengganggu kenyamanan konsumen.  


Untuk mengatsi berbagai masalah tersebut, masyarakat diharapkan untuk lebih teliti dalam memilih perusahaan fintech. Karena oknum tidak memndang status untuk menjadi target penipuan.

Sebelum menggunakan jasa teknologi keuangan atau fintech, biasakan untuk mengecek terlebih dahulu apakah perusahaan tersebut sedah terdaftar di OJK atau belum.

Nasabah juga bisa melaporkan setiap kejanggalan yang terjadi atau menemukan perusahaan fintech bodong kepada satgas waspada OJK melalui layanan konsumen 1500655 atau email waspadainvestasi@ojk.go.id.

www.materibisnis.com bertujuan memberikan edukasi dan motivasi kepada bisnis pemula serta mengulas sisi-sisi lain yang bermanfaat.

Silahkan bagikan artikel ini jika dirasa memberikan manfaat, Terimakasih.
Salam,

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon