Pengertian Entrepreneur, Entrepreneurship, Intrapreneurship dan Entrepreneurial

Entrepreneur, Entrepreneurship, Intrapreneurship dan entrepreneurial

1. Entrepreneur


Entrepreneur merupakan istilah yang lekat diberikan kepada seseorang yang dianggap membawa perubahan, inovasi dan aturan baru yang yang menambah nilai atau kemanfaatan yang lebih besar daripada sebelumnya.


2. Entrepreneurship 


Entrepreneurship adalah sikap mental entrepreneur atau berwirausaha yang diwujudkan untuk menjembatani ilmu yang dimiliki dengan kemampuan menganalisa kebutuhan pasar. Entrepreneurship meliputi kemampuan managerial seseorang entrepreneur dalam mengolah suatu peluang seperti inovasi dan pembentukan perusahaan baru.


3. Intrapreneurship 


Intrapreneurship adalah bentuk dari entrepreneur yang terjadi di dalam organisasi atau perusahaan yang bertujuan menjembatani kesenjangan antara ilmu pengetahuan dengan keinginan pasar (konsumen).


4. Entrepreneurial 


Sementara, entrepreneurial adalah kegiatan atau aktivitas dalam menjalankan usaha itu sendiri. ( Baca juga : Pengertian dan Perbedaan Model Bisnis B2B,B2C,C2C,C2B,B2G dan G2C )

Pengertian dan Perbedaan Model Bisnis B2B,B2C,C2C,C2B,B2G dan G2C

Pengertian dan Perbedaan Bisnis B2B,B2C,C2C,C2B,B2G dan G2C


1. B2B (Business to Business)


B2B merupakan kegiatan transaksi bisnis yang dilakukan oleh pelaku bisnis dengan pelaku bisnis lainnya secara elektronik. B2B sendiri menggunakan metode pertukaran data atau dokumen, dimana dokumen bisnis kedua belah pihak bahkan lebih akan disalin menggunakan aplikasi komputer dengan ketentuan yang telah disepakati. Ketentuan-ketentuan yang telah disepakati tersebut disebut EDI (Electronic Data Interchange) yang digunakan dalam pertukaran data yang berkaitan dengan permintaan dan pengiriman proposal bisnis.


2. B2C (Business to Consumer)


B2C merupakan aktifitas bisnis dengan menggunakan media elektronik yang dilakukan antara produsen kepada konsumen secara langsung (e-bussines). Kegunaan utama dari penggunaan model bisnis B2C adalah mempermudah konsumen dengan cara konsumen dapat melakukan pemesanan apa yang diinginkan secara langsung kepada produsen, karena produsen sudah mencantumkan harga-harga produk yang dijual. Contoh dari penerapan model bisnis B2C adalah Electronic Cash dan Secure Payment System.

Baca juga : Lo Kheng Hong, investor Untung Rp 10 Miliar Dalam Satu Hari


3. C2C (Consumer to Consumer)


C2C merupakan kegiatan transaksi bisnis yang dilakukan oleh konsumen bisnis kepada kepada konsumen bisnis lainnya. Penggunaan model bisnis C2C dapat dilakukan secara langsung tanpa adanya perantara karena sudah banyak aplikasi yang menyediakan fasilitas yang mempermudah dalam kegiatan bisnis C2C. Contoh dari penerapan bisnis C2C adalah aktifitas bisnis dengan menggunakan apikasi bukalapak, tokopedia, kaskus dan sebagainnya.


4. C2B (Consumer to Business)


C2C merupakan kegiatan transaksi bisnis dimana konsumen berhasil menciptakan suatu karya atau nilai yang selanjutnya karya atau nilai tersebut diterapkan atau digunakan dalam bisnis. Kegunaan dari model bisnis C2B adalah sebuah bentuk apresiasi kepada konsumen dalam dunia bisnis.


5. B2G (Business to Government)


B2G merupakan turunan dari kegiatan bisnis menggunakan model B2B. B2G sendiri digunakan dalam pemasaran produk bisnis yang mencakup pemasaran (marketing) melalui teknik komunikasi kepada instansi-instansi pemerintah. Contoh dari penerapan model bisnis B2G adalah branding, iklan dan promosi-promosi lainnya. 

Baca juga : Uang Bukan Segalanya (Tapi Semua Butuh Uang), Apa Maksudnya??


6. G2C (Government to Consumer)


G2C merupakan aplikasi yang digunakan pemerintah (Goverment) untuk berinteraksi dengan masyarakat melalui aplikasi dan melakukan pelayanan kepada masyarakat. Tujuan dari penerapan model bisnis G2C adalah mendekatkan layanan pemerintah dengan rakyat melalui aplikasi dengan harapan masyarakat dapat dengan mudah menjangkau pemerintah untuk mendapat pelayanan sebagaimana mestinya. Contoh dari penerapan model bisnis G2C adalah website PLN, BPS dan PDAM yang dapat diakses melalui internet. 

Cara Efektif Mengelola Hutang Bisnis

Cara Efektif Mengelola Hutang Bisnis

Mengelola Hutang Bisnis - Meski sama-sama mengatur tentang keuangan, mengelola keuangan dalam dunia bisnis memiliki perbedaan dengan mengelola keuangan pribadi (keluarga) pada umumnya. Hal tersebut ditunjukkan dalam mengelola keuangan dalam bisnis bukan hanya membuat pembukuan keuangan secara detail saja, dalam mengatur keuangan bisnis ada beberapa metode keuangan tambahan yang tidak ditemukan dalam mengelola keuangan secara pribadi.

Penambahan metode tersebut dimaksudkan untuk menjaga kondisi keuangan bisnis menjadi lebih stabil dan mencegah terjadinya kebocoran anggaran yang berujung pada kerugian finansial bisnis. Dengan dasar demikian, mengelola keuangan dalam dunia bisnis merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga eksistensi dan menjadi faktor untuk berkembang yang tidak boleh luput dari perhatian para pelaku bisnis.

Dalam kasus tertentu, banyak usaha bisnis yang pada awalnya sukses dan berkembang dalam menjalankan usahanya dengan mendapat profit penjualan dengan baik. Namun dikemudian hari tidak bisa konsisten dalam mempertahankan perkembangan bisnisnya dengan ditengah persaingan bisnis yang semakin kompetitif. 

Dari kasus diatas, kegagalan dalam mempertahankan perkembangan bisnis tersebut salah satunya adalah kegagalan pelaku bisnis dalam mengelola keuangan bisnis dengan baik. Seperti gagal dalam menerapkan pembukuan keuangan dengan baik atau gagal dalam menerapkan strategi hutang piutang atau persoalan-persoalan lainnya.

Oleh karena itu, penting bagi pelaku bisnis untuk mengetahui tentang bagaimana cara mengelola keuangan hutang piutag dengan baik. Selain itu, mempelajari hutang piutang juga bisa mencegah dari risiko-risiko bisnis yang tidak di inginkan. Berikut cara mengelola hutang piutang yang efektif untuk menjaga kondisi finansial bisnis. 


Cara Mengelola Hutang 



Selain harus memperhatikan keadaan finansial bisnis, para pelaku bisnis harus juga mampu mengelola hutangnya dengan baik. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi berbagai masalah karena hutang yang tidak dikelola dengan baik, cenderung akan menjadi sumber masalah dikemudian hari.

Pengelolaan akan hutang menjadi sangat penting, terutama bagi para pelaku bisnis yang memulai bisnisnya dengan meminjam modal dari bank atau pihak lainnya. Meskipun pinjaman memiliki tenor yang panjang, para pelaku bisnis tidak boleh menyepelekan dalam mengelola hutang tersebut. Berikut adalah tahapan-tahapan mengelola hutang secara efektif:


1. Perencanaan Matang


Bagi para pelaku bisnis dengan skala kecil dan Menengan (UKM), mengembangkan bisnisnya dengan meminjam atau berhutang modal usaha dibank sudah umum dilakukan. Namun dari kegiatan meminjam modal tersebut, pelaku bisnis juga harus berhati-hati dengan dengan besaran hutang yang diambil agar tidak terjerat hutang yang membahayakan kondisi keuangan bisnis.

Untuk mempermudah dalam mengelola keuangan bisnis, lebih baik perlu sebuah perencanaan yang matang sebelum memutuskan untuk mengambil hutang di Bank. Hal tersebut bertujuan untuk memastikan kondisi keuangan usaha cukup untuk menyicil angsuran bulanan atau untuk melunasi hutang tanpa membebani kondisi keuangan.


2. Hutang Berdasarkan Kebutuhan 


Dalam mengambil keputusan untuk berhutang, usahakan hutang menjadi pilihan terakhir yang kita tempuh dalam mendapatkan modal untuk mengembangkan usaha. Selain itu, keputusan mengambil hutang juga harus berdasarkan kepada kebutuhan bisnis yang belum bisa di cukupi dengan modal sendiri baik kebutuhan mendesak maupun kebutuhan yang akan datang.

Serta hindari mengambil hutang untuk kebutuhan yang dirasa tidak perlu, meskipun bunga yang ditawarkan memiliki nilai yang rendah. Karena hutang yang tidak berdasarkan dengan kebutuhan hanya akan menjadi sia-sia dan dapat menimbulkan berbagai masalah di kemudian hari. 


3. Perhitungkan Kemampuan Bayar


Secara umum, jangka waktu pelunasan hutang sangat berpengaruh terhadap kemampuan bayar debitur, baik hutang dengan jangka waktu pendek maupun hutang dengan jangka waktu pendek memiliki risikonya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, penting membuat perencanaa hutang yang sesuai dengan kebutuhanan hutang sesuai dengan jangka waktu yang sesuai. 

Hindari mengambil hutang dengan jangka waktu pendek, namun kegunaan dari hutang tersebut untuk jangka panjang. Kesalahan dalam mengambil jangka waktu hutang tersebut bisa menimbulkan masalah finansial usaha karena ketidakmampuan membayar usaha sesuai dengan waktu yang sudah ditetapkan.   


4. Lakukan Simulasi


Saat ini, sudah banyak aplikasi online yang sangat membantu kita dalam mengambil keputusan untuk berhutang. Dengan aplikasi online kita bisa mengetahui estimasi besaran hutang piutang yang akan dipilih. Salah satu contoh PT Bank Danamon Indonesia Tbk yang memberikan layanan inovasi teknologi melalui aplikasi Danamon Financial (D-Financial).

Aplikasi tersebut membantu debitur melalui simulasi pinjaman sebelum debitur memilih pilihan hutang yang diinginkan. selain itu, layanan aplikasi SME D-Financial juga bisa memberikan laporan laba rugi dan laporan sederhana sesuai dengan kondisi finansia bisnis Anda. Tentu dengan adanya inovasi tersebut bisa meminimalisir risiko kesalahan pelaporan keuangan. 

4 Cara Keren Merubah Hutang Bisnis Menjadi Keuntungan

Cara Keren Merubah Hutang Bisnis Menjadi Keuntungan

Merubah Hutang Bisnis Menjadi Keuntungan. Masih banyak orang yang beranggapan merubah hutang menjadi keuntungan merupakan hal yang mustahil, sebenarnya pernyataan tersebut bukanlah tanpa alasan. Terlebih syarat umum untuk mengajukan hutang adalah dengan memberikan jaminan kepada pihak yang memberikan pinjaman, umumnya barang yang dijadikan jaminan seperti perhiasan, sertifikat tanah dan barang berharga lainnya.

Barang-barang yang dijadikan sebagai jaminan tersebut baru bisa miliki kembali setelah orang yang berhutang telah melunasi hutangnya. Namun dalam proses pelunasan hutang, banyak hambatan-hambatan yang harus dilalui seperti kurang memaksimalkan uang hasil berhutang tersebut dengan tidak bisa mengelola hutang dengan baik.

Dalam hal apapun, kebanyakan orang menganggap hutang selalu dikonotasikan memiliki arti yang negatif serta tidak memberikan keuntungan. Dan salah satu penyebab sebagian orang khawatir untuk tidak berhutang adalah adanya risiko-risiko hutang seperti ketidak mampuan debitur untuk membayar hutang yang mengakibatkan tersitanya barang jaminan.

Namun sebenarnya, selain bisa mendapatkan dana cepat dengan berhutang, hutang juga dapat memberikan keuntungan apabila dikelola dengan benar. Berikut cara keren merubah hutang menjadi keuntungan:


1. Prioritaskan Membayar Hutang


Langkah pertama yang bisa dilakukan untuk merubah hutang menjadi keuntungan adalah dengan memprioritaskan atau menyisihkan sebagian dana yang dimiliki untuk mencukupi biaya angsuran hutang disetiap bulannya. Langkah tersebut bisa dilakukan dengan cara mencoba untuk mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang dianggap tidak penting dengan membuat daftar anggaran kebutuhan rutin bulanan.

Dengan daftar membuat anggaran yang jelas, kita semakin mudah dalam menentukan seberapa besar dana yang digunakan untuk membayar hutang. Selain itu, daftar anggaran rutin juga bisa dimanfaatkan sebagai alarm atau pengingat yang membantu kita dalam menentukan besaran anggaran di setiap post dana agar disetiap post dana tidak mengalami kelebihan atau kekurangan dana.    


2. Hindari Buka Tutup Hutang


Dalam keadaan tertentu, memiliki banyak hutang terkadang membuat kita untuk tidak berfikir secara rasional. Asalkan ada solusi sesaat, terkadang kita tidak ragu untuk mengambil keputusan dengan tergesa-gesa dan cenderung tidak teliti hanya untuk mendapatkan dana untuk membayar hutang kembali tanpa memikirkan risiko yang ditimbulkan dengan berhutang kembali.

Seperti contoh pengguna kartu kridit, kebanyakan akan membuat hutang baru dengan tujuan mendapat dana segar yang akan digunakan untuk melunasi hutang kridit yang sudah mendekati jatuh tempo, dan kegiatan tersebut dilakukan secara ber ulang-ulang ketika hutang lain juga memasuki jatuh tempo pembayaran. Untuk itu, hindari memakai metode "gali lubang, tutup lubang", karena dengan hutang baru akan memberikan beban baru dan masalah baru.


3. Dapatkan Aliran Dana dari Investor


Jika dirasa kebutuhan masih belum menyukupi, tidak ada salahnya mencoba untuk mendapatkan aliran dana dari para investor dengan cara bekerja sama. Secara tidak langsung bekerja sama dengan para investor dapat membantu kondisi keuangan dengan aliran dana yang dikucurkan untuk membangun bisnis menjadi lebih maju dan berkembang.

Namun dalam hal menjalin kerja sama dengan investor, hal pertama yang harus diperhatikan adalah memastikan terlebih dahulu tentang kesepakatan pembagian hasil yang didapatkan dengan melakukan perjanjian atau kontrak kerja. Hal tersebut dapat membantu meningkatkan kepercayaan investor agar tetap mau bekerja sama dan mangalirkan dananya kebisnis kita. 


4. Pandai Mengelola Hutang


Walaupun keadaan tidak mendukung dan memaksa untuk berhutang, debitur harus bisa menjaga serta mengelola keuangan dengan baik dengan tujuan secepat mungkin untuk melunasi hutang dan menjaga keadaan finansial tetap sehat. Selain itu, mengelola hutang dengan tepat akan membantu debitur dalam menentukan apakah akan mengambil hutang kembali atau tidak.

Selain cara yang telah disampaikan diatas, ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk membuat hutang menjadi keuntungan dengan cara menghindari membayar hutang dengan membuat hutang baru "tutup lubang, gali lubang" dan belajar untuk berhemat dengan mengurangi membeli atau menggunakan hal-hal yang dirasa tidak perlu.

Ingin Merdeka Dari Jeratan Hutang?? Perhatikan Tips Berikut

Ingin Merdeka Dari Jeratan Hutang

Merdeka Dari Jeratan Hutang. Jeratan hutang merupakan momok bagi sebagian orang, banyak yang merasa gelisah karena hutang yang dimiliki tidak kunjung selesai. Membayar hutang sendiri merupakan sebuah kuwajiban yang harus dibayarkan oleh peminjam dengan tempo yang telah ditetapkan atau yang telah disepakati sebelumnya.   

Jeratan hutang yang dialami biasanya timbul dikarenakan oleh kegagalan dalam mengolah keuangan, baik mengolah keuangan untuk usaha maupun keuangan keluarga yang dilakukan. Untuk menghadapi berbagai masalah karena hutang, perlu tips yang tepat dalam mengola keuangan dengan tujuan mempercepat untuk keluar dari jeratan hutang atau merdeka dari hutang. 

Salah satu cara paling familiar dan efektif untuk mengelola hutang yang bisa digunakan dalam menerapkan strategi cepat keluar dari jeratan hutang adalah dengan tidak membuat angsuran hutang bulanan lebih dari 30% dari gaji yang dihasilkan disetiap bulannya. Namun cara tersebut belum sepenuhnya ampuh dalam mengatasi berbagai persoalan-persoalan terkait dengan hutang.

Selain menggunakan cara failiar tersebut, ada beberapa tips lain yang bisa dikombinasikan dengan cara diatas untuk mempercepat merdeka dari jeratan-jeratan hutang. Berikut adalah tips lain yang bisa membuat kita merdeka dari jeratan hutang:


1. Mencari Uang Tambahan


Kata bijak mengatakan bahwa "jika kamu ingin memiliki kondisi keuangan yang sehat, ada dua cara yang bisa untuk dilakukan yaitu dengan berusaha menambah penghasilan atau dengan meminimalisir jumlah pengeluaran". Menambah penghasilan sendiri sangat diperlukan untuk mencukupi bagian-bagian dana yang terkuras untuk digunakan mengangsur hutang bulanan.  

Bagi yang sudah memiliki pekerjaan utama, tidak ada salahnya untuk mencoba menambah pengasilan dengan melakukan pekerjaan tambahan. Namun dengan catatan, waktu dan porsi yang digunakan dalam mencari dana tambahan harus disesuaikan dengan tujuan agar tidak mengganggu pekerjaan utama.


2. Sesuaikan Gaya Hidup


Keinginan untuk tampil menonjol dibanding dengan yang lain merupakan hal yang manusiawi, namun memaksakan diri untuk tampil mewah melebihi kemampuan merupakan bukan keputusan yang bijak. Malah keputusan untu selalu terlihat mewah tersebut akan menimbulkan bernagai masalah baru dimasa yang akan datang. 

Usahakan untuk bijak dalam memilih gaya hidup dengan menyesuaikan gaya yang dimiliki dengan besaran penghasilan yang didapat disetiap bulannya. Hal tersebut bertujuan agar gaya hidup yang dipilih tidak membebani pengeluaran Anda hanya untuk memenuhi kebutuhan gengsi gaya hidup semata.


3. Mengurangi Asset


Salah satu cara yang paling ampuh untuk cepat keluar dari jeratan hutang adalah dengan mengurangi aset yang dimiliki, seperti contoh menjual asset berupa emas, deposito, reksadana dan asset lainnya. Namun dalam menjual atau mengurangi asset perlu sebuah pemikiranyang tenang diseratai dengan perhitungan akan untung rugi yang akan didapat.

Jangan karena emosi dan kalut dengan tujuan ingin cepat keluar dari jeratan hutang malah akan menimbulkan masalah atau kerugian lainnya dikemudian hari. Apabila sudah mantap untuk mengurangi asset, pertimbangkan asset yang dianggap sekiranya dapat segera diganti serta dapat memberikan manfaat.


4. Komitmen Membayar Hutang


Selalu tanamkan kepada diri untuk selalu membayar hutang tepat waktu, dan apabila terjadi masalah yang harus dibicarakan (negosiasi permasalahan hutang), jangan ragu untuk membicarakan kepada  pihak yang memberi hutang dengan tujuan membangun kridibiltas dan kepercayaan sebagai pihak yang telah diberi hutang. 

Dengan membangun komunikasi secara intens, dapat menghindari prasangka-prasangka negatif yang ditimbilkan oleh perbedaan pandangan dan miss komunikasi antara pihak yang memberi hutang dan pihak yang diberi hutang.

Cara Cerdas Mengelola Pinjaman Bank Untuk Kelancaran Bisnis

Mengelola Pinjaman Bank Untuk Kelancaran Bisnis

Mengelola Pinjaman Bank. Dalam Sebuah bisnis, meminjam sebuah modal untuk memperluas usaha merupakan langkah yang sudah umum, terutama meminjam uang untuk keperluan modal usaha di Bank. Terlepas dari besaran hutang modal yang di pinjam, yang menjadi masalah adalah tidak semua pelaku bisnis belum bisa mengelola pinjaman dari Bank tersebut dengan baik.   

Secara umum, penyebab dari kegagalan dalam mengilah pinjaman adalah ketidak mampuan pelaku usaha untuk menggelola hutangnya dengan baik, seperti contoh sering terlambat dalam mengangsur pinjaman bulanan yang mengakibatkan denda bunga yang semakin besar dan secara tidak langsung bisa mengganggu kondisi finansial perusahaan atau bisnis.

Selain masalah sering terlambatnya membayar angsuran, masih banyak risiko-risiko terkait pinjaman Bank yang harus diketahui oleh para pelaku usaha. Hal tersebut bertujuan agar kegiatan berhutang menjadi salah satu faktor yang bisa mendukung bergeraknya usaha menjadi lebih baik, bukan malah karena hutang menjadikan usaha menjadi tidak berkembang bahkan menjadi bangkrut.

Risiko lain karena kegagalan dalam mengelola hutang atau ketidak mampuan para pelaku usaha dalam membayar hutang perusahaan untuk modal usaha adalah kemungkinan tersitanya aset-aset perusahaan dan masuk kedalam daftar hitam (blacklist) perbankan yang berakibat usaha akan kesulitan dalam pengajuan pinjaman di kemudian hari.

Guna mengatasi serta menghindari masalah-masalah yang bisa mengganggu kelancaran bisnis karena usaha terlilit hutang, berikut beberapa cara yang bisa digunakan dalam mengelola pinjaman Bank untuk kelancaran bisnis.  


Buat Rencana


Sebelum mengambil keputusan untuk mengambil hutang, baik berhutang di Bank maupun berhutang di perseorangan. Alangkah baiknya untuk membuat perencanaan terlebih dahulu, akan digunakan atau disalurkan kemanakah dana yang telah didapatkan dari hutang tersebut, apakah digunakan untuk menambah modal produksi perusahaan, untuk modal promosi atau kegiatan usaha lainnya.

Pertimbangkan juga mengambil hutang sesuai dengan kebutuhan, hitung terlebih dahulu mana yang masih bisa ditangani sendiri tanpa hutang dan mana yang harus menggunakan hutang. Jangan sampai mengambil hutang tanpa didasari oleh rencana yang matang, karena hal tersebut akan membebani terhadap kondisi keuangan di kemudian hari.


Komitmen Terhadap Rencana 


Kejadian yang sering dialami oleh pelaku usaha ketika baru mendapat pinjaman dana dari Bank adalah timbulnya keinginan untuk menggunakan dana pinjaman tersebut untuk kegiatan lainnya yang tidak berhubungan dengan kegiatan bisnisnya, contohnya dana yang seharusnya digunakan untuk modal usaha habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti shopping dan kebutuhan harian lainnya.

Tentu contoh diatas merupakan hal yang kurang tepat, dalam mengelola hutang pelaku usaha harus mengetahui bagaimana cara membedakan antara kebutuhan usaha dan keinginan pribadi. Usahakan dana yang di dapatkan dari berhutang dibank hanya digunakan untuk aktivitas memperlancar kegiatan bisnis saja.


Siapkan Dana Khusus


Keputusan mengambil hutang/pinjaman di Bank, secara tidak langsung membuat debitur terikat perjanjian untuk mengangsur hutangnya setiap bulan ditambah dengan bunga pinjaman yang sebelumnya telah disepakati. Selain harus membayar angsuran perbulannya, hal yang harus diperhatikan oleh debitur adalah adanya resiko denda apabila debitur tidak membayar angsuran tepat waktu.

Untuk mengatasi hal tersebut, usahakan untuk membuat dana khusus yang disediakan untuk membayar angsuran disetiap bulannya. Dana tersebut bisa diambil dari keuntungan usaha atau sengaja menyisihkan dana untuk membayar angsuran serta menyisihkan sebagian keuntungan untuk membuat dana cadangan untuk membayar angsuran dibulan selanjutnya apabila mengalami defisit atau kerugian.    


Ubah Keuntungan Menjadi Modal Kembali


Disamping harus menggunakan keuntungan untuk membayar angsuran hutang disetiap bulannya, debitur atau pelaku usaha harus bisa menciptakan kondisi finansial yang sehat dengan cara mengolah kembali keuntungan yang didapat dari kegiatan usaha menjadi modal usaha kembali. 

Hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengusahakan sebelum pinjaman terbayarkan, usahakan untuk tidak mengambil keuntungan yang didapatkan untuk memenuhi keinginan sehari-hari. Hal tersebut bertujuan untuk memperlancar kondisi keungan usaha tanpa harus bergantung kepada modal hutang kembali.


Buat Catatan Keuangan


Selain membuat perencanaan yang matang disertai dengan komitmen, cara yang bisa digunakan dalam mengelola keuangan dari hasil pinjaman Bank adalah dengan membuat catatan keuangan yang dilakukan secara rutin dan mendetail. Catat semua dana pemasukan dan dana pengeluaran dari hasil usaha beserta dengan besarannya.

Buat catatan juga dari setiap angsuran yang telah dabayarkan sebelumnya, hal tersebut dapat memudahakan pelaku usaha dalam menentukan perhitungan kas usaha di dikemudian hari. Dengan mencatat keuangan secara rutin, pelaku usaha dapat memonitoring dan dapat mengambil keputusan yang paling tepat berdasarkan catatan keuangan yang telah dibuat sebelumnya.

Cara Ampuh Mengelola Hutang Dengan Efektif dan Tidak Memberatkan Debitur

Cara Ampuh Mengelola Hutang Dengan Efektif dan Tidak Memberatkan

Cara Efektif Mengelola Hutang. Kata hutang selalu membawa konotasi negatif terhadap sesuatu dan selalu ingin dihindari, namun bukan berarti seseorang tidak boleh berhutang. Ada beberapa keadaan dimana seseorang harus berhutang untuk memastikan masalah finansial mereka dapat teratasi, dan salah satu caranya adalah dengan berhutang.

Hutang sendiri merupakan pinjaman berupa uang atau benda yang diperlukan seseorang untuk mencukupi kebutuhannya dengan meminjam dari orang lain. Meski pada dasarnya tidak ada orang yang ingin berhutang, namun dalam situasi tertentu kebutuhan akan hutang tidak bisa untuk dihidari seperti untuk mencukupi kebutuhan mendadak.

Selain untuk mencukupi kebutuhan mendadak (urgent), hutang biasanya juga digunakam untuk mencukupi hal-hal yang sekiranya membutuhkan modal cukup besar yang tidak bisa di cukupi sendiri, sebagai contoh untuk kegiatan membeli rumah, membeli mobil, atau hutang untuk modal usaha.

Guna menjaga agar hutang tidak melebihi kemampuan bayar, ada beberapa cara yang harus diketahui terlebih dahulu oleh debitur sebelum meminjam dana. Salah satu caranya dalah dengan mengklasifikasi hutang untuk mencegah masalah finansial menjadi lebih besar dan membawa pada kebangkrutan.


Klasifikasi Hutang


Membedakan jenis-jenis hutang yang akan digunakan merupakan hal yang wajib diketahui oleh debitur, hal tersebut bertujuan untuk mengetahui risiko-risiko yang akan ditimbulkan dari jenis hutang tersebut serta menyesuaikan berdasarkan kebutuhan agar tidak memberatkan dikemudian hari.

Pengklasifikasian hutang juga bisa dimanfaatkan debitur untuk membedakan antara jenis hutang yang dianggap produktif seperti untuk modal usaha, investasi dan kegiatan yang menimbulkan keuntungan lainnya dengan jenis hutang yang dianggap tidak memiliki manfaat atau biasa disebut hutang konsumtif.

Dengan melakukan klasifikasi terhadap hutang, debitur diharapkan bisa mengambil keputusan sebelum mengambil hutang. Apakah memutuskan mengambil hutang untuk kegiatan produktif atau hutang untuk kegitan konsumtif berdasarkan tingkat kebutuhan yang dibutuhkan serta tingkat kemampuan bayar yang dimiliki oleh debitur.

Dengan melakukan klasifikasi hutang, akan mempermudah debitur untuk memilih jenis hutang yang akan digunakan dengan mempertimbangkan kemampuan bayar serta risiko-risiko yang akan ditimbulkan apabila terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kedaaan yang menyebabkan debitur mengalami gagal bayar.


Kemampuan Bayar Debitur


Terlepas dari konotasi negatif dari kata hutang, namun ada saat dimana seseorang memerlukan sebuah hutang. Kuwajiban seseorang yang memiliki hutang adalah harus membayar hutangnya (angsuran) serta melunasi hutang sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati kedua belah pihak.

Apakah kesepakatan hutang-piutang tersebut harus dilunasi dalam satu waktu atau bisa diangsur kedalam beberapa bulan serta penentuan bunga yang harus dikeluarkan oleh debitur. Tentu besaran angsuran dan bunga yang harus dibayarkan setiap bulan atau jatuh tempo pelunasan akan mempengaruhi keadaan financial para debitur.

Oleh karena itu, hal yang harus dilakukan oleh para debitur sebelum meminjam atau berhutang adalah mengetahui kemammpuan bayar sebelum menentujan besaran dana yang akan kita butuhkan untuk mengantisipasi keadaan yang tidak di inginkan seperti keadaan dimana debiturtidak sanggup membayar hutangnya.

Salah satu cara untuk mengetahui berapa kemampuan bayar sesoeorang adalah dengan membuat pengelompokan dana / anggran. Dengan melakukan pengelompokan dana, seseorang akan lebih mudah mengetahui besaran pemasukan yang ia miliki dan mengetahui seberapa banyak pengeluaran yang ia keluarkan disetiap bulannya.

Dalam pengelompokan dana / anggaran, usahakan untuk membuat pengelompokan serinci munkin dengan memuat berbagai aspek yang berkaitan dengan pengeluaran dan pemasukan setiap bulannya.


Penjadwalan Pembayaran Hutang


Setelah mengetahui dan tidak ada masalah dengan kemampuan bayar debitur, langkah selanjutnya dalam untuk mempermudah mengolah hutang adalah dengan melakukan penjadwalan kapan harus membayar hutang tersebut. Terlebih jika debitur memiliki hutang lebih dari 1 jenis hutang  yang harus dibayarkan setiap bulannya.

Guna mempermudah pembayaran angsuran hutang disetiap bulannya, buatlah jadwal rutin pembayaran beserta jumlah yang harus dibayarkan. Buat catatan yang memudahkan kita mengingat seperti mencatat di memo harian atau di smartphone. a/Selain sebagai media pengingat, penjadwalan hutang juga bisa meminimalisir denda bunga karena lupa membayar hutang.

Jika berhutang kita berhutang dibank, kita bisa memanfaatkan fitur auto debet yang bisa membantu kita membayar hutang secara otomatis dari rekening kita, tentu fitur tersebut sangat membantu apalagi bagi debitur yang sangat sibuk. 


Penggabungan Hutang


Ketika debitur memiliki hutang berbeda lebih dari 1 tempat dan harus diangsur setiap bulannya, tentu keadaan tersebuat sangat memberatkan sekaligus membingungkan. Selain membingungkan, keadaan tersebut malah akan semakin membuat pengelolahan keuangan menjadi tidak sehat.

Guna mengatasi hal tersebut, tidak ada salahnya kalau mencoba untuk menggabungkan ke dalam 1 sumber hutang saja. Seperti contoh meminjam hutang lagi untuk melunasi hutang disumber yang lainnnya, langkah tersebut bertujuan untuk mempermudah proses pembayaran dan monitoring untuk kedepannya.   

Dengan menggunakan 1 sumber hutang saja, diharapkan debitur menjadi lebih fokus dalam mengelola hutangnya karena hanya memakai 1 sumber hutang. Selain itu, dengan menggabungkan beberapa jenis hutang kedalam 1 sumber hutang juga dapat meminimalisir terjadinya risiko-risiko gagal bayar.