Waspadai Fintech Bodong, Simak Tips Aman Memilih Jasa Teknologi Keuangan (Fintech)

Waspadai Fintech Bodong, Simak Tips Aman Memilih Jasa Teknologi Keuangan (Fintech)

Tips Aman Memilih Jasa Fintech. Layanan teknologi yang memberikan layanan pinjam meminjam uang semakin menjamur, karena memberikan alternatif serta kemudahan kepada mayarakat yang membutuhkan dana secara cepat.

Untuk menjaga kenyamanan konsumen, Ketua Satgas (satuan tugas) Waspada investai OJK, Tongam Lumban Tobing mengingatkan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam memanfaatkan pinjaman di fintech untuk menghindari hal-hal yang merugikan.

Apalagi saat ini aplikasi fintech dapat dengan mudah di temukan di Appstore atau Playstore. 

Berikut tips dari Satgas Waspada Investasi OJK agar kita tidak salah dalam memilih perusahaan finech dan mengindari perjanjian-perjanjian yang merugikan:


1. Pilih Fintech yang Terdaftar di OJK


Tongam Lumban Tobing mengungkapkan bahwa saat ini sudah lebih dari 100 perusahaan fintech yang terdaftar di OJK. Guna melindungi keamanan konsumen, OJK memberi himbauan kepada perusahaan fintech untuk tidak merugikan konsumen seperti mengakses data pribadi konsumen.

Himbauan tersebut sudah dituangkan dalam peraturan yang sudah di sepakati oleh  Satgas (satuan tugas) Waspada investai OJK dengan melarang perusaan fintech  mengakses daftar kontak, berkas-berkas dan informasi penting lainnya di smartphone konsumen.

Bahkan satgas OJK juga tidak segan untuk memberikan tidakan tegas apabila ditemukan pelanggaran. Mulai dari peringatan tertulis, denda materil, pembatasan kegiatan sampai pencabutan izin operasi.


2. Pinjam Sesuai Kemampuan dan Kebutuhan


Untuk mengantisi risiko telat bayar, tobing menyarankan konsumen untuk menghitung kemampuan bayar sebelum menentukan jumlah atau jenis pinjaman. Kebanyakan konsumen merasa kesulitan membayar karena tidak mampu membayar angsuran bulanan.

Ditambah dengan intimidasi dari debt colector yang membuat konsumen menjadi tidak nyaman dan tertekan. Tentu hal tersebut akan menimbulan konsumen gagal bayar. 

ia juga menambahkan,sebelum menggunakan jasa teknologi pinjaman fintech, sebaiknya konsumen mengukur terlebih dahulu kemanmpuan bayar dan dana yang dibutuhkan.


3. Gunakan Untuk Kebutuhan Produktif


Tobing juga menyarankan, lebi baik meminjam dana untuk kebutuhan produktif saja, seperti untuk keperluan membuka usaha dan kegiatan produktif lainnya.

Dengan harapan, konsumen mendapatkan penghasilan sehingga terhindar dari hal yang tidak diinginkan seperti ketidak mampuan membayar angsuran yang harus dibayar.


4. Pahami Manfaat dan Resikonya


Sebelum memutuskan meminjam dana, konsumen dituntut untuk mengerti bahwa transaksi tersebut merupakan sebuah peranjian yang mengikat. Dimana konsumen berkewajiban untuk mengembalikan pokok hutang disertai dengan bunga yang telah disepakati sebelumnya.

Selain itu, konsumen juga harus mengerti resiko apa yang harus dihadapi jikau tidak mampu membayar di kemudian hari.


5. Konsultasikan ke OJK jika diperlukan


Terakhir Tongam Lumban Tobing menyarankan untuk bekonsultasi dengan OJK apabila terjadi permasalahan dengan perusahaan fintech atau permasalahan-permasalahan lainnya yang berhubungan dengan pelayanan jasa teknologi keuangan. 

Konsumen juga bisa berkonsultasi memalui call centre OJK dengan menghubungi 1500655 atau dengan mengirim email di waspadainvestasi@ojk.go.idNamun apabila konsumen sudah merasa dirugikan, konsumen bisa melaporkan kepihak kepolisian karena sudah masuk keranah pidana.

Hati-Hati Banyak Fintech Bodong, Kenali Dulu Ciri-Ciri Fintech Ilegal Yang Berpotensi Merugikan

Hati-Hati Banyak Fintech Bodong, Kenali Dulu Ciri-Ciri Fintech Ilegal Yang Berpotensi Merugikan

Ciri-Ciri Fintech Ilegal (Bodong). Dibalik perkembangan jasa teknologi keuangan (Fintech) yang semakin berkembang pesat, banyak perusahaan fintech yang menghadirkan inovasi-inovasi baru dengan tujuan memudahkan akses masyarak mendapat layanan keuangan secara optimal.

Selain itu fintech juga memiliki tujuan lain untuk memudahkan masyarakat dalam bertransaksi keuangan, serta mempermudah akses dan juga meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

Namun di era serba digital kita harus tetap waspada terhadap terhadap fintech bodong yang berpotensi merugikan. Masyarakat diminta untuk selalu berhati-hati dalam memilih jasa teknologi keuangan atau Fintech.

Sebab banyak situs fintech abal-abal yang berpotensi merugikan dengan memerikan iming-iming bunga yang menggiurkan. Terutama Fintech yang menggunakan metode peer to peer lending atau P2P Lending yang bergerak pada usaha simpan pinjam.

Mengingat begitu banyak penipuan Fintech Bodong, mengetahui ciri-ciri fintech yang berpotensi merugikan merupakan hal yang penting untuk di lakukan.

Berikut adalah ciri-ciri fintech yang berpotensi merugikan:


1. Identitas Fintech Tidak Jelas


Jika melihat dari unsur dasar perusahaan, identitas perusahaan merupakan salah satu faktor penting bagi tumbuh kembangnya suatu perusahaan. 

Identitas yang jelas dimaksudkan untuk mempermudah calon klien untuk mengetahui bagaimana perusahaan tersebut berada, 
bagaimana perusahaan dikelola, management perusahaan, alamat perusahaan, Customer Service yang bisa dihubungi dan sebagainya.

Tentu saja hal tersebut berbeda dengan perusahaan fintech yang memiliki niat buruk (bodong), biasanya perusahaan fintech bodong akan menyamarkan identitas perusahaan dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. 

Apabila ditanya mengenai identitas perusahaan, biasanya mereka akan segera mengalihkan pembicaraan dengan tujuan membuat perhatian nasabah teralihkan dan membuat nasabah tertarik.

Umumnya, perusahaan fintech yang aman selalu terbuka kepada calon nasabahnya, karena dengan keterbukaan akan membangun sebuah kepercayaan antara nasabah dan perusahaan. 

Baca juga : Tips Memilih Layanan Fintech Aman ala Ronny Wijaya Indodana


2. Kemudahan Tidak Wajar


Pada dasarnya, tujuan berdirinya teknologi inovasi fintech adalah untuk memudahkan masyarakat dalam menjangkau layanan keuangan. Namun masyarakat diminta utuk selalu waspada saat bertransaski menggunakan media online yang memberikan kemudahan secara tidak wajar.

Sebagai contoh, umumnya perusahaan fintech legal (Terdaftar di OJK) akan memberikan formulir pengajuan dan kelengkapan persyaratan kepada calon nasabah yang berisi data diri calon nasabah.

Selanjutnya data akan diverifikasi secara detail untuk memastikan data yang diberikan valid sebelum transaksi dilakukan. Namun bagi perusahaan fintech bodong semua tahap-tahap verifikasi tersebut dapat dipersingkat.

Tentu bagi calon nasabah yang kurang waspada mungkin hal tersebut sangat membantu, namun sebenarnya sangat riskan untuk dilakukan karena tidak mematuhi standrat yang telah ditetapkan OJK.


3. Bunga Tinggi


Perangkap yang sering digunakan oleh perusahaan fintech bodong adalah dengan memberikan pelayanan yang mudah dengan menyamarkan transparansi dan akhirnya menjebak nasabah kepada bunga yang sangat tinggi.

Bahkan dalam beberapa kasus, perusahaan fintech bodong memberikan bunga mencapai 2%-3% perharinya. Tentu bunga yang sangat tinggi tersebut sangat memberatkan masyarakat.

Memang OJK tidak memberikan batas bunga terhadap perusahaan fintech, namun  AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia) telah menerapkan peraturan yang memberikan perlindungan terhadap konsumen.

Salah satu peraturan yang dibuat adalah masa penagihan hanya boleh dilakukan maksimal 90 hari dari tenggat waktu pembayaran serta penagihan tidak boleh melebihi 100% dari nilai pokok. Artinya, jumlah biaya pinjaman dan pokok dijamin tidak akan bertambah.


4. Duplikat Data Nasabah


Selain memberikan pelayanan kemudahan yang dianggap tidak wajar, resiko yang harus dihadapi oleh nasabah adalah pencurian data pribadi yang dilakukan oleh perurasahaan fintech bodong tersebut.

Biasanya data-data pribadi yang sering di curi adalah nomer HP, Nama nasabah, alamat rumah, serta data-data pendukung lainnya. Tentu hal tersebut sangat merugikan nasabah apabila data tersebut digunakan secara tidak bijak. 

Namun hal tersebut dipastikan tidak akan terjadi kepada perusahaan fintech yang sudah dinyatakan legal OJK, karena OJK telah mengartur pelarangan tindakan penyalinan data nasabah yang sudah tercantum di POJK atau Peraturan Otoritas Jasa Keuangan.


5. Penagihan Secara Intimidasi


Salah satu penyebab yang membuat tidak nyaman nasabah fintech bodong adalah cara penagihan yang dilakukan secara mengintimidasi peminjamnya. Bahkan Debt collector juga tidak segan untuk meneror anggota keluarga nasabah tersebut.

Padahal menurut code of conduct (dokumen tertulis yang mengatur bagaimana tata cara atau perilaku perusahaan), perusahaan fintech hanya boleh melakukan penagihan hanya pada jam kerja. 

Dan tidak menyarankan untuk mengih diluar jam kerja karena dapat mengganggu kenyamanan konsumen.  


Untuk mengatsi berbagai masalah tersebut, masyarakat diharapkan untuk lebih teliti dalam memilih perusahaan fintech. Karena oknum tidak memndang status untuk menjadi target penipuan.

Sebelum menggunakan jasa teknologi keuangan atau fintech, biasakan untuk mengecek terlebih dahulu apakah perusahaan tersebut sedah terdaftar di OJK atau belum.

Nasabah juga bisa melaporkan setiap kejanggalan yang terjadi atau menemukan perusahaan fintech bodong kepada satgas waspada OJK melalui layanan konsumen 1500655 atau email waspadainvestasi@ojk.go.id.

Tips Memilih Layanan Fintech Aman ala Ronny Wijaya Direktur Utama Indodana

Layanan Fintech Aman ala Ronny Wijaya Direktur Utama Indodana

Tips Memilih Fintech ala Ronny Wijaya. Saat ini, Layanan Fintech yang memberikan layanan peer to peer atau P2P Lending semakin digandrungi banyak orang, terutama bagi orang-orang yang mempunyai kebutuhan mendadak dan menginginkan dana cepat cair.

Apalagi banyak masyarakat yang menganggap Fintech memiliki keunggulan dibanding dengan lembaga keuangan konvensional, seperti memberikan kemudahan dalam transaksi, proses yang cepat dan persyaratannya yang tidak berbelit-belit.

Bahkan saat ini, fintech semakin berkembang dengan melakukan berbagai inovasi salah satunya adalah tidak hanya menawarkan pinjaman, namun kini dengan fintech mengajak masyarakat luas untuk menjadi pemberi pinjaman/lender atau P2P.   

Aplikasi Fintech P2P juga mengedepankan keamanan, dibuktikan dengan memiliki setiap aplikasi harus memiliki Setifikasi Internasional ISO 27001 serta sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan atau OJK.

Baca juga : Sejarah Pesatnya Perkembangan Fintech Di Indonesia

Namun dibalik semua kemudahan yang diberikan, kita harus tetap waspada terhadap segala bentuk resiko penipuan/jebakan yang dilakukan oleh fintech abal-abal.

Seperti yang diungkapkan oleh Ronny Wijaya, Direktur Utama Indodana. Ia menjelaskan bahwa sebelum menggunakan jasa teknologi keuangan (fintech) pastikan terlebih dahulu apakah aplikasi tersebut sudah terdaftardi OJK atau belum.

Hal tersebut bertujuan untuk keamanan pelanggan, dalam hal ini OJK berperan sebagai pengawas sekaligus mengatur regulasi industri fintech serta melindungi nasabah dan memberi edukasi dan menggunakan layanan fintech. 


Langkah kedua Sebelum memilih fintech adalah dengan memilih fintech yang sudah yang tersertifikasi ISO 27001. Ronny Wijaya menambahkan bahwa Sertifikasi ISO 27001 merupakan standart yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui peraturan yang dibuat Kementerian Komunikasi dan Informasi melalui Permen Kominfo No. 4 Tahun 2016.

Dengan memilih perussahaan fintech yang memiliki ISO 27001, menggambarkan bahwa perusaahaanfintech tersebut memiliki tata kelola data nasabah yang baik sesuai standar internasional.

Dengan penerapan ISO 27001, perusahaan fintech diharapkan dapat mengatasi berbagai kendala seperti penyalahgunaan data, pencurian data identitas pelanggan(hacking) dan sebagainya.


Langkah ketiga Kenali sistem pendanaan dan keuntungannya. Salah satu kegiatan keuangan yang populer saat ini adalah menggunakan inovasi pendaanan melalui fintech P2P lending, karena dirasa lebih menguntungkan dibanding dengan menabung biasa.

Selain memberikan kemudahan, P2P lending juga memberikan imbal hasil yang sangat menarik ketika pelanggan telah memiliki kesepakatan untuk pemberi pinjaman atau biasa disebut lender.


Oleh sebab itu, Ronny Wijaya menegaskan. Sebelum melakukan investasi atau menggunakan jasa teknologi keuangan pastikan terlebih dahulu tentang produk pendanaan yang diberikan, cara malakukannya, syarat ketentuan serta keuntungan dan resikonya.   

Ronny Wijaya menyontihkan, seperti di indodana. investor atau pelanggan bisa mendapatkan keuntungan hingga 20% pertahun hanya menggunakan modal pendanaan mulai Rp100.000 saja.

Cukup terjangkau meski bagi orang yang mau belajar untuk berinvestasi.

Baca juga : Alasan Harus berinvestasi Sejak Dini

Ronny Wijaya juga menjelaskan strategi yang digunakan oleh indodana adalah untuk meminimalisir semua kesalahan dengan menggunakan teknologi AI (Artificial Intelligence) RoboInvest dan Big Data.

Teknologi-teknologi tersebut berfungsi untuk memitigasi risiko dari para peminjam serta memberikan perlindungan Asuransi Simasnet kepada para pelanggan agar tidak mendapat biaya tambahan lagi. Dengan kata lain ada jaminan dari perusahaan untuk dana lender akan dikembalikan hingga 95%.

Terahir Ronny Wijaya mengingatkan untuk lebih teliti dalam memilih jasa teknologi keuangan atau fintech, karena saat ini ada banyak website dan aplikasi online yang menawarkan pinjaman kilat maupun investasi online fintech.

"Namun harus selalu waspada, karena tidak semua produk fintech aman, masih banyak fintech yang abal-abal yang dapat berpotensi merugikan," tambah Ronny Wijaya Direktur Utama Indodana.

Sejarah Pesatnya Perkembangan Teknologi Keuangan (Fintech) Di Indonesia

Sejarah Pesatnya Perkembangan Teknologi Keuangan (Fintech)

Perkembangan Teknologi Keuangan (Fintech). Dewasa ini, pesatnya perkembangan inovasi teknologi yang memudahkan telah mengubah sebagian besar pola hidup manusia. Tidak terkecuali inovasi teknologi dalam bidang jasa keuangan yang semakin marak saat ini.

Inovasi teknologi dengan alasan memberikan kemudahan tersebut yang kemudian menyebabkan lahirnya inovasi dalam memberikan pelayanan keuangan berbasis teknologi atau biasa dikenal dengan financial technology atau fintech.  

Dalam perkembangannya, fintech di Indonesia telah merambah kedalam beberapa sektor, seperti startup pembayaran, peminjaman (lending), pembiayaan (crowdfunding), perencanaan keuangan (personal finance), hingga nvestasi ritel.

Perkembangannya sendiri terbilang sangat subur, dibuktikan dengan semakin maraknya perusahaan startup berbasis Fintech dalam beberapa tahun terakhir.

Apalahi kehadiran Fintech diyakini dapat memberikan kemudahan kepada penggunanya. Disisi lain, kehadiran fintech juga diyakini dapat memajukan perusahaan-perusahaan di Indonesia khususnya perusahaan yang bergerak dalam bidang Startup.

Menilik data OJK bulan januai 2019, perusahaan fintech telah menyalurkan pinjaman lebih dari Rp25,92 triliun dan terus bertambah. Jumlah tersebut naik sekitar 14,36% dari awal tahun 2018 yang tercatat senilai Rp22,67 triliun

Meski memiliki angka yang cukup fantastis, namun OJK mengatakan angka tersebut masih tegolong kecil. Karena berdasarkan penelitian pada tahun 2016, masih ada kesenjangan pendanaan sebesar Rp989 triliun per tahunnya.

Namun OJK optimis industri fintech di Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar, mengingat masih banyaknya kebutuhan pendanaan yang diperlukan oleh masyarakat yang belum terpenuhi. 

Tercatat dalam data statistik OJK per tanggal 1 Februari 2019, terdapat 99 perusahaan fintech yang sudah terdaftar dan berizin di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan 54 perusahaan fintech yang terdaftar di Bank Indonesia (BI).

Baca juga : Lo Kheng Hong, investor Untung Rp 10 Miliar Dalam Satu Hari

Disisi lain, Bambang Soesatyo Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengatakan bahwa perusahaan fintech dapat mempermudah masyarakat dalam mengakses produk-produk keuangan serta mempermudah transaksi dan meningkatkan literasi keuangan.

Seperti menekan biaya modal serta menekan biaya operasional dengan memanfaatkan teknologi berupa smartphone. Ia juga mengungkapkan dengan munculnya fintech, negara dapat mengehemat pembuatan uang kertas dengan mengedepankan transaksi non-tunai.

Bambang Soesatyo juga meyakini fintech dapat mencegah risiko sumber stabilitas sistem keuangan yang berkaitan dengan sistem informasi dengan catatan perkembangan fintech harus sejalan dengan pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Mengingat pada tahun lalu (2018), terdapat sekitar 277 fintech yang dinyatakan ilegal oleh Satgas OJK karena meresahkan masyarakat.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah di bawah OJK memberikan pengawasan lebih kepada pelaku fintech. Serta perlu sebuah aturan UU atau payung hukum di industri fintech untuk melindungi pihak terkait akibat penyalah gunaan teknologi.

Dalam hal pertumbuhan, pesatnya pertumbuhan perusahaan fintech di Indonesia di pengaruhi oleh beberapahal berikut:


1. Memberikan Kemudahan


Tujuan dari fintech adalah menawarkan kemudahan akses kepada calon pelanggan, terutama bagi calon pelanggan yang belum terjangkau oleh produk keuangan konvensional. 

Kemudahan lain yang ditawarkan adalah kemudahan akses, karena fintech berbabis internet. Hal tersebut semakin mendekatkan diri kepada generasi muda yang sangat aktif dalam memanfaatkan teknologi internet dalam kehidupan sehari-hari.

Selain akses yang mudah, fintech juga dianggap lebih praktis untuk digunakan dalam kehidupan sehari-harinya ketimbang produk keuangan konvensional.

Baca juga : Belajar nvestasi Saham Untuk jangka Panjang


2. Perkembangan Teknologi


Perkembangan teknologi yang semakin cepat, memaksa perusahaan fintech untuk terus melakukan inovasi secara berkelanjutan. Inovasi dalam teknologi dengan tujuan memenuhi apa yang masyarakat butuhkan.

Ketika timbul permasalahan baru, para perusahaan fintech di tuntut untu jeli dalam menyediakan produk keuangan inovatif yang dapat menyelsaikan masalah tersebut dengan tepat dan memanfaatkan perkembangan teknologi terbaru.


3. Generasi Millennials


Fintech sangat digemari oleh Generasi Millennials dengan semangat entrepreneur yang sangat tinggi. Dengan alasan mobilitas yang tinggi fintech memberikan kepraktisan yang dibutuhkan oleh kalangan ini.

Serta dianggap memberikan kesan baru yang lebih fleksibel serta tidak kaku  menjadi salah satu keunggulan fintech dibanding perusahaan keuangan yang menggunakan metode konvensional.

Pengen Investasi di Pasar Modal? Simak Rumus Sukses KSW ala Lukas Setia Atmaja

Simak Rumus Sukses KSW ala Lukas Setia Atmaja

Rumus Sukses KSW Lukas Setia Atmaja. Banyak para investor saham yang masih merasa bingung dalam bermaian saham di pasar modal, terutama dialami oleh para investor pemula.

Kebanyakan dari mereka terlalu terpaku oleh data-data teknikal saja dan selanjutnya terjebak menjadi investor jual-beli tanpa mendapatkan keuntungan yang di inginkan.

Diungkapkan oleh salah satu akademisi saham, Lukas Setia Atmaja mengungkapkan. Hal tersebuat biasa diakibatkan oleh beberapa hal, terutama oleh ketidaktahuan para investor atau mereka memang tidak memiliki keterampilan dalam berinvestasi dan mengolah saham. 

Lukas melanjutkan, bahwa kebanyakan dari meraka hanya berinvestasi menggunakan model investasi yang biasa disebut dengan investasi nilai. Investasi nilai merupakan model investasi saham yang mendorong para investor untuk tidak takut membeli suatu saham yang harganya berada di bawah nilai.

Selain itu, ia menambahkan ada beberapa aspek yang harus selalu diperhatikan dalam bermain saham, seperti sebelum membeli saham harus selalu mengenali perusahaanya terlebih dahulu. Apakah perusahaan tersebut dikelola oleh orang yang tepat atau tidak.

Lukas juga menambahkan, setidaknya ada tiga rumus kunci yang dapat membantu para investor saham untuk mencapai kesuksesan. Lukas menyingkatnya dalam tiga abjad yakni KSW.

"Yaitu K untuk knowledge, S untuk skill dan W untuk wisdom," ungkap Lukas Setia Atmaja.

Baca juga : Prinsip Lo Kheng Hong, Warren Buffett-nya Indonesia


1. Knowledge


Lukas mengungkapkan, Knowledge meliputi tentang pengetahuan dasar mengenai pasar saham, seperti mengetahui profil perusahaan, kinerja perusahaan dan pengenalan prospek ekosistem industri.

Dengan mengetahui knowlege, diharapkan para  investor jangan sampai salah membeli saham perusahaan yang tidak mengedapankan good corporate governance atau biasa disebut saham perusahaan bodong.

Disamping itu, para investor harus mengedepankan kemampuan serta mempunyai kemampuan untuk membaca data-data ekonomi, seperti laporan keuangan perusahaan dan sebagainya.

Menurut lukas, dari pemahaman membaca data-data ekonomi (laporan keuangan), investor diharapkan bisa menemukan saham-saham yang memiliki profit tinggi dari perusahaan-perusahaan under value yang berpotensi turnaround di masa depan.

Ia juga menambahkan, laporan keuangan merupakan salah satu bahasa investasi yang seharusnya dijadikan sebagai dasar investasi, terutama bagi investor yang menggunakan model investor nilai.  


2. Skill


Selain membutuhkan Knowledge, para investor juga harus mempunyai skill yang mumpuni dalam bermain saham. Skill yang dibutuhkan dalam bermain saham meliputi kemampuan melakukan riset, kemampuan melakukan analisa saham secara detail serta kemampuan mengedepankan rasionalitas kritis dalam mengambil keputusan.

Selain itu, kemampuan untuk mengolah semua informasi yang diterima sebelum  mengambil keputusan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kesuksesan investor saham.

Baca juga : Lo Kheng Hong, investor Untung Rp 10 Miliar Dalam Satu Hari


3. Wisdom


Tidak hanya selalu mengandalkan kemampuan seperti knowledge dan skill, para investor yang telah terbukti sukses mendapatkan keuntungan dari investasinya juga memiliki sikap komitmen dalam menjalankan investasinya.

Para investor harus mampu bersabar, dapat mengontrol emosi, serta harus percaya diri dalam berbagai kondisi. Ia juga menambahkan bahwa widom merupakan tahapan yang paling sulit dibanding dengan knowledge dan skill.

Sukses Jadi Investor, Ternyata ini yang tidak dimiliki Lo Kheng Hong

Sukses Jadi Investor, Ternyata ini yang tidak dimiliki Lo Kheng Hong

Hal yang tidak dimiliki oleh Lo Kheng Hong. Lo Kheng Hong merupakan salah satu maestro bisnis saham yang paling handal di Indonesia. Berkat kejeniusannya, Lo Kheng Hong kerap dijuluki sebagai Warren Buffet-nya Indonesia. 

Yang paling fenomenal, ketika ia berhasil untung 5.900 persen ketika menjual saham UNTR. 

Lo Kheng Hong bercerita, awalnya ia membeli saham tersebut dengan harga hanya Rp 250 pada tahun 1998, lalu menjualnya kembali ketika harganya menginjak Rp 15.000 pada tahun 2004.

Selain sukses dalam berinvestasi saham di UNTR, ia juga pernah tercatat sukses dalam invsestasi jual saham MBAI dan TINS. Bahkan lo khenghong pernah untung Rp 10 Milyar dalam satu hari dari inestasi saham. 

Baca juga : Lo Kheng Hong, Investor Untung Rp 10 Miliar Dalam Satu Hari

Berkat kejeniuasannya dalam berbisnis saham, ia hampir selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun dibalik kisah suksesnya, Lo Kheng Hong mengaku ada beberapa yang tidak ia miliki. 

Berikut adalah beberapa hal yang tidak bisa dimiliki oleh Lo Kheng Hong:


1. Tidak Punya Kantor


Tidak seperti investor-investor lainnya, Lo Kheng Hong lebih memilih untuk tidak memiliki kantor. Ia lebih suka mengerjakan kegiatan investasinya dari rumah dengan alasan kenyamanan.

Dari rumah ia bisa melakukan apapun yang inginkan, saat santai bersama keluarga, saat makan bahkan sampai tidurpun ia bisa melakukannya sambil berinvestasi. Lo Kheng Hong juga mengaku ingin bebas dalam segala hal, tidak ingin terikat oleh sesuatu. 


2. Tidak Punya Hutang


Meski dalam dunia investasi perusaahan biasa berhutang untuk melakukan ekspansi, Namun Lo Kheng Hong beranggapan berhutang untukmodal investasi merupakan hal yang tidak dianjurkan. Selain memiliki waktu yang lama berinvestasi di pasarmodal juga memiliki resiko yang cukup tinggi.

Oleh karena itu, Ia menyarankan untuk menghindari hutang untuk berinvestasi. Selain itu Ia juga mengungkapkan bahwa ia gagap akan teknologi dengan jarang membuka website, bahkan ia mengaku tidak mempunyai fasilitas online banking.


3. Tidak Memiliki Follower


Biasanya, orang sukses dalam berbagai hal memiliki fanspage untuk menyapa penggemarnya. Namun hal tersebut sepertinya tidak berlaku untuk Lo Kheng Hong. Ia mengaku tidak mempunyai akun fanspage pribadi seperti akun facebook, twitter, maupun website.

Ia juga menjelaskan bahwa ada beberapa akun fanspage di media sosial yang menggunakan namanya, namun Lo Kheng Hong menjelaskan bahwa akun tersebut bukan dirinya atau akun tersebut palsu semua.  


4. Tidak mempunyai karyawan dan BOS


Lo Kheng Hong mengaku tidak bekerja untuk siapa-siapa, oleh karena itu dia tidak memiliki BOS. Ia melakukan investasi karena keinginannya sendiri.

Meski mengaku gagap teknologi, Lo Kheng Hong memilih untuk tidak merekrut karyawan. Ia lebih suka untuk melakukannya sendiri, seperti menganalisa saham dan investasi ia lakukan sendiri.

Tetapi secara tidak langsung ia mengakui bahwa ia memiliki banyak karyawan. Namun karyawan yang dimaksud adalah karyawan perusahaaan yang sahamnya dimiliki Lo Kheng Hong.

Misalnya ia memiliki saham sebesar 6% di Petrosea. Jika Petrosea memiliki karyawan 50.000, secara tidak langsung ia memiliki kurang lebih 600 orang karyawan.

Lo Kheng Hong, investor Untung Rp 10 Miliar Dalam Satu Hari

Lo Kheng Hong investor Untung Rp 10 Miliar Dalam Satu Hari

Lo Kheng Hong. Pernahkah Anda membayangkan mendapatkan keuntungan sampai Rp 10 miliar dalam satu hari?? Jika iya, kira-kira bisnis apa yang bisa memberikan keuntungan sebanyak itu??

Lalu bagai mana bisnis tersebut dijalankan sehingga bisa menghasilkan keuntungan tersebut?? Dengan cara apa bisnis tersebut bisa menghasilkan keuntungan??

Meski hanya sebuah angan-angan, banyak orang yang beranggapan bahwa mendapat keuntungan sampai Rp 10 miliar dalam satu hari sangatlah tidak masuk akal.

Lalu apakah mungkin sebuah bisnis bisa menghasilkan Rp 10 miliar dalam satu hari dan bisnis dalam bidang apa?? 

Jawabannya dengan investasi saham di pasar modal. Dalam pasar modal apapun bisa terjadi, bahkan bisa mendapat keuntungan lebih dari Rp 10 miliar dalam satu hari juga bisa, tergantung dari investor tersebut dalam memilih dan mengelola sahamnya.

Meski bagi sebagian orang, mendapatkan keuntungan hingga Rp 10 miliar dalam satu hari hanyalah sebuah angan-angan. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Lo Kheng Hong. 

Baru-baru ini, pria yang digelari Buffett-nya Indonesia ini mampu mendapatkan keuntungan Rp 10 miliar dalam satu hari dari pasar modal.

Ia mendapatkan keuntungan dari naiknya harga saham PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk dengan kode saham MBSS.

Baca juga : Prinsip Sukses Lo Kheng Hong


Cerita Lo Kheng Hong untung Rp 10 Miliar Dalam Satu Hari


Lo Kheng Hong menjelaskan bahwa dirinya memiliki 5,44 persen atau setara 95,19 juta lembar saham emiten dari PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk.

Kepemilihan saham yang ia miliki merupakan yang paling besar ketiga setelah PT Indika Energy Infrastructure sebesar 51 persen dan UBS AG China Navigation sebesar 25,68 persen.

Ia menjelaskan pada waktu itu saham PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk menjadi salah satu yang paling aktif. Dari posisi pembukaan berada di posisi 105 poin naik ke level Rp 705 per lembar saham atau menguat 17,5 persen.

Dari kenaikan yang cukup tinggi tersebut, Lo Kheng Hong mendapatkan untung kurang lebih Rp 9,99 miliar. Apabila dibulatkan hasil yang didapat adalah Rp 10 miliar.

Hebatnya lagi, keuntungan tersebut hanya didapatkan dalam satu hari, bukan jumlah total dari periode-periode sebelumnya. 

Ia juga mengaku mulai masuk (membeli saham) ke PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk sejak tahun 2016, ketika harga perlembar sahamnya masih Rp 200 per lembar saham. 

Tentu jika diakumulasikan semua pendapatan dari investasi saham di pasar modal akan jauh lebih besar lagi.

Meski PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk tidak memberikan deviden setelah mencatat kenaikan rugi bersih dua kali lipat pada tahun 2018 senilai 17,15 juta dollar AS.

Lo Kheng Hong tetap berpeluang memperoleh dividen dari investasi saham lainnya seperti PT Panin Financial Tbk yang mencatat keuntungan Rp 1,83 triliun dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk mencatat keuntungan 588,13 juta dollar AS pada tahun lalu. 

Namun Lo Kheng Hong merahasiakan jumlah besaran yang ia dapatkan.